GoJakarta.id - Sintesis penelitian dari jurnal RIGGS tahun 2025 mengidentifikasi sembilan kelompok tantangan yang saling terkait dalam t...
GoJakarta.id - Sintesis penelitian dari jurnal RIGGS tahun 2025
mengidentifikasi sembilan kelompok tantangan yang saling terkait dalam
transformasi digital audit internal. Keterbatasan kompetensi dan keterampilan
digital auditor menempati posisi teratas sebagai hambatan utama. Sementara itu,
mayoritas fungsi audit di Indonesia masih beroperasi dengan metodologi yang
sama seperti satu dekade lalu. Kesenjangan ini bukan sekadar soal efisiensi
kerja. Di tengah kompleksitas risiko siber dan regulasi yang semakin ketat, auditor
yang tidak memperbarui kompetensinya bisa menjadi titik lemah dalam sistem tata
kelola perusahaan.
Penelitian dari Journal of Economic and Business Advancement
tahun 2026 menambahkan dimensi lain: auditor kini dituntut memahami konsep big
data, keamanan siber, dan teknik pengujian otomatis. Tanpa kompetensi ini,
proses audit tidak hanya kurang efektif, tapi berpotensi melewatkan risiko
material yang tersembunyi di balik data digital. BPKP dalam webinar tahun 2021
juga menekankan bahwa trend peran internal auditor di era digital membutuhkan
pemutahiran prosedur pemeriksaan dan pengetahuan digital yang memadai.
Di sinilah training internal audit tersertifikasi bukan lagi
opsi tambahan, tapi kebutuhan strategis yang menentukan kualitas pengawasan
organisasi.
Ketika Fungsi Audit Internal Tidak Berjalan Optimal
Direksi Mengambil Keputusan Tanpa Informasi Risiko yang
Andal
Dewan komisaris dan direksi bergantung pada laporan audit
internal untuk memetakan risiko sebelum menyetujui strategi besar. Jika auditor
tidak memahami teknik audit berbasis teknologi atau analisis data, temuan yang
disajikan bisa terlalu dangkal. Akibatnya, keputusan strategis diambil dengan
blind spot yang tidak terlihat.
Ini bukan soal auditor yang tidak serius. Ini soal metode
yang sudah ketinggalan zaman.
Saat Ada Temuan Berulang di Laporan Audit
Manajer operasional dan kepala unit kerja sering kali
menghadapi temuan audit yang sama dari tahun ke tahun. Pola ini adalah sinyal
yang tidak bisa diabaikan. Auditor yang tidak dilatih untuk melakukan root
cause analysis hanya akan mencatat gejala, bukan penyebab mendasar.
Akibatnya, rekomendasi audit tidak pernah benar-benar
menyelesaikan masalah. Biaya perbaikan terus membengkak tanpa hasil yang
permanen.
Regulator Menuntut Lebih dari Sekadar Kepatuhan Formal
OJK dan BPKP semakin menekankan bahwa fungsi audit internal
harus menjadi third line of defense yang benar-benar independen dan kompeten.
Regulator tidak lagi puas dengan laporan yang hanya menunjukkan kepatuhan
administratif. Mereka ingin melihat bukti bahwa audit internal mampu
mengidentifikasi risiko material sebelum jadi masalah.
Mengapa Banyak Tim Audit Internal Stagnan Meski Sudah
Berjalan Bertahun-tahun
Ketergantungan pada Cara Kerja Konvensional
Banyak auditor senior merasa nyaman dengan pendekatan audit
tradisional yang berfokus pada sampling dokumen dan wawancara rutin. Mereka
jarang terpapar pada teknik audit berbasis data atau tools analitik modern.
Padahal, transaksi bisnis kini hampir seluruhnya digital.
Tanpa kemampuan mengolah data transaksi secara masif,
auditor hanya melihat sebagian kecil dari gambaran risiko yang sebenarnya.
Tidak Ada Program Pengembangan Kompetensi yang
Terstruktur
Organisasi sering kali mengalokasikan anggaran pelatihan
untuk fungsi operasional, tapi lupa pada audit internal. Atau, pelatihan yang
diikuti bersifat umum dan tidak menyentuh kebutuhan spesifik auditor. Hasilnya,
kompetensi auditor tidak berkembang seiring dengan kompleksitas bisnis.
Kompetensi audit tidak tumbuh dengan sendirinya. Butuh
intervensi yang disengaja.
Apa Sebenarnya Training Internal Audit yang Efektif
Teknik Audit Berbasis Risiko yang Relevan dengan Konteks
Bisnis
Training yang baik tidak hanya mengajarkan definisi risiko,
tapi membekali auditor dengan kerangka kerja untuk memetakan risiko spesifik di
industri mereka. Auditor belajar mengidentifikasi risiko yang paling material
bagi organisasi, bukan sekadar mengikuti daftar risiko standar.
Mereka juga dilatih untuk mengaitkan temuan audit dengan
dampak strategis, sehingga laporan audit lebih mudah ditindaklanjuti oleh
manajemen.
Analisis Data untuk Auditor Non-Teknis
Salah satu hambatan terbesar auditor adalah ketakutan
terhadap tools analitik. Training efektif menyediakan modul yang dirancang
untuk auditor dengan latar belakang non-teknis. Mereka belajar menggunakan
software audit untuk mengolah data transaksi, mendeteksi anomali, dan
memvalidasi temuan dengan bukti kuantitatif.
Ini bukan tentang menjadi data scientist. Ini tentang punya
cukup literasi data untuk tidak tertipu oleh angka yang salah.
Penyusunan Laporan yang Bisa Ditindaklanjuti
Banyak laporan audit berakhir di arsip karena rekomendasinya
terlalu abstrak. Training yang tepat mengajarkan auditor cara menyusun temuan
yang spesifik, terukur, dan terhubung dengan tanggung jawab pemilik proses.
Laporan jadi alat komunikasi, bukan sekadar dokumen kepatuhan.
Kapan Training Internal Audit Paling Mendesak
Langkah 1: Asesmen Kompetensi Berbasis Bukti
Sebelum memilih program training, lakukan asesmen kompetensi
tim audit internal. Gunakan kerangka kerja seperti IIA Global Internal Audit
Standards untuk memetakan gap antara kompetensi saat ini dan yang dibutuhkan.
Asesmen ini harus berbasis bukti, bukan persepsi. Tes
praktis dan simulasi audit lebih baik daripada kuesioner self-assessment.
Langkah 2: Pilih Modul yang Sesuai dengan Gap
Teridentifikasi
Setelah gap terpetakan, pilih training yang fokus pada area
prioritas. Misalnya, jika tim lemah di analisis data, ambil modul audit
berbasis data. Jika masalahnya di penyusunan laporan, ambil modul komunikasi
audit.
Jangan ambil training yang terlalu umum. Fokus pada gap yang
paling menghambat kinerja audit.
Langkah 3: Integrasikan dengan Coaching Pasca Training
Training satu kali tidak cukup. Auditor butuh coaching untuk
menerapkan ilmu baru di lapangan. Program training yang baik menyediakan sesi
coaching pasca training untuk memastikan transfer pengetahuan benar-benar
terjadi.
Tanpa follow-up, ilmu dari training sering kali menguap
dalam beberapa minggu.
Integrasi Solusi Training dari GRC Training
GRC Training hadir sebagai mitra bagi organisasi yang ingin
membangun kompetensi audit internal secara berkelanjutan. Program training
internal audit yang ditawarkan dirancang oleh trainer praktisi dengan
pengalaman langsung di berbagai industri.
Modul training fleksibel dan bisa disesuaikan dengan konteks
bisnis organisasi Anda. Format training tersedia dalam berbagai pilihan:
online, offline, privat, atau in-house training. Setelah training, peserta
mendapat akses ke sesi coaching lanjutan untuk memastikan implementasi ilmu di
lapangan.
Investasi untuk training internal audit di GRC Training
berada di kisaran yang kompetitif dan sebanding dengan manfaat jangka
panjangnya. Organisasi tidak hanya mendapat pengetahuan, tapi juga perubahan
perilaku audit yang terukur.
Kompetensi Audit Internal Tidak Tumbuh dengan Sendirinya
Fakta dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa tuntutan
terhadap fungsi audit internal terus meningkat, sementara kapasitas SDM auditor
tidak berkembang dengan kecepatan yang sama. Jika kondisi ini dibiarkan, ada
kemungkinan besar organisasi akan menghadapi risiko material yang tidak
terdeteksi sampai jadi krisis.
Yang menunda investasi dalam training internal audit
menanggung biaya yang tidak terlihat: keputusan strategis yang salah, temuan
audit berulang, dan potensi sanksi regulator. Biaya ini tidak muncul di laporan
keuangan, tapi dampaknya nyata.
Hubungi tim GRC Training untuk konsultasi awal dan asesmen
kebutuhan training internal audit yang sesuai dengan konteks organisasi Anda.
Informasi lengkap tentang modul, format, dan layanan coaching pasca pelatihan
tersedia di https://training-grc.com .
Referensi Data:
- Journal
RIGGS (2025). Audit Internal dalam Era Transformasi Digital: Identifikasi
Tantangan dan Peluang. Journal Ilmu Data.
- Ascendia
Journal (2026). Perubahan Teknologi dan Kompetensi Auditor Internal.
Journal of Economic and Business Advancement.
- BPKP
(2021). Trend Peran dan Kebutuhan Kompetensi Internal Auditor di Era
Digital. Webinar BPKP.
- Institute of Internal Auditors Indonesia (2026). Transformasi Digital Audit Internal. IIA Indonesia.


COMMENTS